Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email
Oktober 29, 2020 4:43 pm

Sampah, Tanggung Jawab Bersama

Ilustrasi/Ist

Oleh: Yermias Degei*)

“Jangan membuang sampah sembarang.” Pesan semacam ini sudah terlalu sering kita baca dan dengar. Namun, kita terus membuang sampah semau kita, di mana saja dan kapan saja. Tidak ada rasa malu dan semakin membudaya.

Lalu, cepat-cepat, kita cuci tangan dan berkata, ”Ah ada pemerintah, ada Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota. Itu tugas mereka.”

Hal itu benar, tetapi jika tugas membuang sampah hanya jadi tugas mereka, lalu bagaimana konsekuensi hidup kita sebagai manusia, ciptaan Tuhan yang berakal budi?

Bagaimana tanggung jawab kita kepada anak cucu kelak jika mereka mengalami krisis lingkungan akibat sampah yang kita tabung di mana-mana semau kita?

Berpengetahuan Sampah

Sampah merupakan material sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses. Sampah didefinisikan oleh manusia menurut derajat keterpakaiannya. Dalam proses-proses alam sebenarnya tidak ada konsep sampah, yang ada hanya produk-produk yang dihasilkan setelah dan selama proses alam tersebut berlangsung.

Akan tetapi karena dalam kehidupan manusia dikenal konsep lingkungan maka sampah dapat dibagi menurut jenis-jenisnya, yaitu sampah organik dan sampah non-organik.

Sampah organik atau sampah basah yaitu jenis sampah yang berasal dari jasad hidup sehingga mudah membusuk dan dapat hancur secara alami. Contohnya adalah sayuran, daging, ikan, nasi, dan potongan rumput/daun/ranting dari kebun.

Pembusukan sampah organik terjadi karena proses biokimia akibat penguraian materi organik sampah itu sendiri oleh mikroorganime (makhluk hidup yang sangat kecil) dengan dukungan faktor lain yang terdapat di lingkungan.

Metode pengolahan sampah organik yang paling tepat adalah melalui pembusukan yang dikendalikan.

Sedangkan sampah non-organik atau sampah kering atau sampah yang tidak mudah busuk adalah sampah yang tersusun dari senyawa non-organik yang berasal dari sumber daya alam tidak terbaharui seperti mineral dan minyak bumi, atau dari proses industri. Contohnya adalah botol gelas, plastik, tas plastik, kaleng, dan logam.

Sebagian sampah non-organik tidak dapat diurai oleh alam sama sekali. Mengolah sampah non-organik erat hubungannya dengan penghematan sumber daya alam yang digunakan untuk membuat bahan-bahan tersebut dan pengurangan polusi akibat proses produksinya di dalam pabrik.

Nah, Bagaimana Proses Kerja Sampah?

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa sampah kertas (dus karton) akan hancur selama 2-5 bulan, kulit jeruk hancur selama 6 bulan, Filter Rokok selama 10-12 tahun, Kantong Plastik akan hancur setelah 10-20 tahun, Kulit Sepatu membutuhkan waktu 25-40 tahun untuk hancur, Pakaian dan Plastik hancur selama 30-40 tahun, Aluminium membutuhkan waktu hingga 80 tahun.

Lalu, jika kita membuang sampah sembarang, apa yang akan terjadi?

Sudah pasti akan menjadi sarang berkembangnya organisme dan menarik binatang seperti lalat, kecoak, nyamuk dan anjing yang sangat rentan membawa virus.

Dari segi medis, penyakit yang bisa timbul adalah diare, kolera, jamur kulit, cacing pita dan tifus (jenis ini menyebar dengan cepat karena virus yang berasal dari sampah yang bercampur air minum), penyakit demam berdarah meningkat dengan cepat di daerah yang penuh sampah.

Cairan rembesan sampah yang masuk ke dalam drainase atau sungai akan mencemari air.

Berbagai organisme termasuk ikan bisa mati, beberapa spesies akan lenyap, ini mengakibatkan berubahnya ekosistem perairan biologis. Penguraian sampah di air menghasilkan asam organik dan gas-cair organik, seperti metana. Selain berbau kurang sedap, gas ini dalam konsentrasi tinggi dapat meledak.

Krisis Lingkungan?

Manusia sejak lahir memproduksi sampah. Bayangkan, sebelum sampah yang dibuang pada hari sebelumnya habis terurai, hari ini ribuan kantong sampah kita buang lagi.

Gunung sampah menjadi lebih tinggi lagi, sampah ada di mana-mana. Begitulah setiap hari, tidak ada tanggal merah.

Berdasarkan data BPS 2012, penduduk Distrik Nabire (kota Nabire) mencapai 74.177 jiwa (57, 19% dari total penduduk). Kita ambil sebagiannya dari jumlah ini, yakini 37.885 jiwa. Jika 1 orang menghasilkan 1 kantong sampah maka untuk sehari saja bisa mencapai 37.885 ribu kantong sampah. Satu bulan berapa kantong sampah dan dalam satu tahun berapa kantong sampah yang berserakahan ke mana-mana?

Dapat dikontrol dan mudah diangkat jika kantong-kantong sampah itu dibuang pada satu tempat, jika tidak, seperti kita saksikan selama ini? Ratusan ribu kantong sampah menggunung, dibuang semaunya, kemudian akan menjadi tidak lagi tertangani.

Akibatnya, dari hari ke hari kualitas lingkungan hidup semakin memburuk. Udara terpolusi. Air tercemar. Tanah kehilangan unsur hara. Sumber makanan akan kian terbatas. Tanah-tanah yang dahulu produktif berubah menjadi gersang. Manusia akan menderita kekurangan ruang yang layak untuk dinikmati, kebutuhan pengalaman seni hilang.

Krisis lingkungan hidup yang parah salah satu muaranya adalah krisis air bersih. Lingkungan yang rusak tidak lagi memiliki kemampuan yang baik untuk menghasilkan air bersih. Air tanah yang dihasilkan dari siklus air tidak layak dikonsumsi. Konsekuensinya, orang membutuhkan pertolongan teknologi pengolahan air agar layak dikonsumsi.

Bagi kalangan yang memiliki kemampuan untuk membeli teknologi itu, hal itu menjadi masalah kecil saja. Akan tetapi, masyarakat miskin mengalami masalah. Mereka tidak lagi memperoleh air bersih. Mereka inilah yang paling terancam karena tiadanya air bersih.

Bukan tidak mungkin, mereka akan memaksa diri untuk mengonsumsi air yang tidak layak konsumsi. Kemudian dalam beberapa tahun setelahnya, mereka akan memanen penyakit yang terkait dengan pola konsumsi air tak layak. Krisis lingkungan hidup akan bermuara juga pada krisis pangan.

Dalam pandangan banyak ahli, ketika lingkungan hidup rusak, daya produksinya menurun. Tanaman pangan tidak akan tumbuh dengan baik apabila unsur-unsur yang diperlukannya tidak tercukupi. Apalagi jika tanah menjadi gersang. Tidak ada air. Lahan yang kritis itu tidak lagi bisa dijadikan lahan untuk penghasil pangan. Apabila luasan lahan kritis itu terus bertambah, produksi pangan bisa berkurang. Sementara populasi manusia terus bertambah.

Untuk masyarakat peramu, kerusakan lingkungan itu akan terasa sekali. Masyarakat yang makanan pokoknya sagu terancam oleh pembukaan lahan perkebunan atau industri di area hutan sagu. Luasan hutan sagu akan terus menyusut. Perubahan itu memaksa mereka untuk menemukan sumber-sumber pangan baru. Kemungkinan negatif yang lain adalah terjadinya konflik memperebutkan sumber pangan yang terbatas.

Mari, Atasi Bersama

Masalah sampah berkaitan dengan perilaku manusia. Bencana-bencana yang berhubungan dengan sampah merupakan bencana yang disebabkan oleh manusia: Kita.

Pada sejumlah kesempatan, ketika berpapasan dengan sampah di mana saja, kita kerap kali mengatakan, “Mengapa sampah itu belum diangkat?” Orang lain di kesempatan yang berbeda, ketika melihat sampah, ia mengatakan, “Mengapa mereka membuang sampah di situ?”

Pertanyaan pertama dialamatkan kepada mereka yang diserahi tugas dan digaji untuk mengangkat dan mengelola sampah.

Tetapi, apakah kita sadar bahwa jika sampah itu dibuang pada bukan tempatnya, tentu pertanyaan yang muncul adalah “Mengapa mereka membuang sampah di situ?”

Itu artinya, persoalan sampah bukan hanya tugas satu pihak. Ia adalah tugas bersama, tugas kita semua. Saling menuding dan saling mengharapkan tentu bukan solusi.

Solusinya adalah pemerintah daerah, dalam hal ini dinas teknis, khususnya mereka yang telah diserahi tugas dan digaji untuk mengangkat dan mengelola sampah serta kita yang terus memproduksi dan membuang sampah sembarang ini menyadari bahwa tugas kita bersama untuk atasi sampah.

Kita adalah pemerintah dan pemerintah adalah kita, penghuni Nabire. Pemerintah Kabupaten Nabire ada karena ada kita, rakyat, setiap individu. Itu artinya, apa pun persoalan, termasuk sampah di kota Nabire adalah tanggung jawab bersama, semua orang yang menghuni rumah besar ini, kota Nabire. Setiap orang wajib berperan atasi sampah.

Sampah di kota Nabire akan teratasi apabila kita memiliki kesadaran bahwa ”sampah tanggung jawab bersama”. Karena, kita mesti sadar bahwa masing-masing kita adalah penghasil sampah sejak lahir. Karenanya, kita juga sekaligus memiliki tanggung jawab atasi sampah. Kita semua memiliki tanggung jawab sosial, tanggung jawab iman dan tanggung jawab bagi anak cucu masa depan.

Bagaimana langkah konkret yang sudah, sedang dan terus harus kita buat?

Pemerintah Kabupaten Nabire terus berupaya berbagai cara untuk mengatasi sampah. Mulai dari pembentukan kantor kebersihan lalu menaikan status menjadi Dinas, menghasilkan keputusan Bupati, Peraturan Daerah, meyediakan Tempat Pembuangan Akhir, pembagian titik lokasi kebersihan bagi setiap Organisasi Perangkat Daerah, setiap tahun terus menambah armada pengangkat sampah hingga mengangkat ratusan tenaga kontrak untuk kebersihan kota, serta penetapan hari Jumat sebagai hari kerja bakti bagi seluruh Aparatur Sipil Negara.

Pemerintah terus bekerja keras melakukan upaya-upaya cepat dan sudah memperlihatkan hasilnya. Tetapi, perilaku kita, warga penghuni rumah besar, Nabire, tak kunjung berubah.

Masih kita jumpai orang-orang tanpa malu dan bersalah membuang sampah semaunya, di mana saja dan kapan saja. Hari ini diangkat, besok masih kita buang sampah di parit, hari ini dinormalisasi besok sungai sudah penuh kantong sampah.

Dari kondisi ini, beberapa solusi perlu kita cari bersama.

Pertama, semua pihak: dinas teknis, kampus, sekolah, gereja, LSM, dunia usaha, TNI/Polri, distrik, lurah, RT/RW, rumah tangga dan setiap individu perlu membangun kesadaran bahwa sampah (krisis lingkungan) adalah ancaman nyata bagi kehidupan manusia.

Kesadaran seperti itu harus terus dibangun melalui berbagai media dan kesempatan. Aneka cara dapat ditempuh. Pentas seni, festival, lomba menulis soal sampah, diskusi-diskusi di sekolah, kotbah, pertemuan di warung kopi, diskusi di areal wifi, melalui stiker, baliho, umbul- umbul, dan lain sebagainya. Membangun sebuah komitmen baru bersama, “NABIRE GREEN DAN CLEAN”.

Kedua, membentuk perilaku baru. Perilaku adalah tindakan yang terbentuk berkat pembiasaan.

Intinya, kebiasaan warga seputar sampah harus dibentuk.

Membuang sampah pada tempat  yang telah ditentukan. Berkenaan dengan ini beberapa tempat transit sampah perlu diuat, tong sampah misalnya.

Kemudian, dunia usaha berupa kios dan pertokoan berperan membangun tempat pembuangan sampah di depan usahanya dan mengangkat sampah setiap hari sebagai tanggung jawab sosialnya.

Setiap RT/RW diwajibkan membuat tempat transit sampah sebelum diangkat oleh petugas/tenaga kontrak yang bertugas angkat sampah.

Selain itu, kita semua perlu membiasakan diri untuk memproduksi sampah sesedikit mungkin.

Membawa tas atau kantong dari rumah saat belanja di pasar atau toko untuk mengurangi sampah plastik. Kita juga perlu sadar bahwa saat membuang sampah dari atas mobil, di sungai atau di jalanan, manusia tidak melihat tetapi mata Tuhan melihat kita sedang mengotori alam- Nya.

Setiap kita menolak untuk menjadi seseorang yang ikut mengotori rumah besar kita ini (Nabire) dengan stop buang sampah sembarangan.

Warga juga bisa olah sampah dalam skala rumah tangga, misalnya dijadikan pupuk kompos.

Dengan begitu warga akan terbiasa memilah-milah sampah untuk diolah dan tidak. Pemerintah memberikan insentif pada warga kampung atau desa yang berhasil menyelesaikan sampah sampai pada tingkat rumah tangga. Jika sebagian besar masalah sampah bisa diselesaikan pada tingkat keluarga, maka problem sampah sudah jauh berkurang.

Ketiga, pihak manapun dapat mencari cara-cara kreatif menangani sampah dalam jangka waktu panjang. Untuk saat ini, solusi pembangkit listrik yang berasal dari sampah belum dapat dilakukan di Nabire. Akan tetapi, semua pihak perlu untuk memikirkan manajemen sampah agar tidak menjadi sebab bagi krisis lingkungan di masa depan.

Sampah-sampah organik mestinya dijadikan pupuk untuk pusat-pusat pertanian dan mengumpulkan sampah plastik untuk kemudian didaur ulang.

Sampah, dalam jangka panjang,  perlu dipikirkan bersama sebagai bahan mentah untuk input suatu produksi. Hasil akhirnya bisa bermacam-macam: pupuk, plastik daur ulang, kertas daur ulang, listrik, dan lainnya.

Semuanya membawa manfaat untuk masyarakat sekaligus mengurangi bahaya krisis lingkungan.

Mari, menjadikan “NABIRE GREEN DAN CLEAN”. (*)

*) Kepala Bagian Humas dan Protokol Setda Nabire

 

Cat: Tulisan ini pernah dipublikasi melalui jubi.go.id (https://jubi.co.id/sampah-tanggung-jawab-bersama/)

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

Berita lainnya

Salah satu aspek penting dalam pembangunan tanah Papua adalah informasi yang benar, jujur, dan obyektif, yang diperoleh melalui mekanisme yang benar dan diperoleh dari sumber yang kompeten dan kredibel serta jika dipublikasikan maka dipublikasikan melalui media jelas alamat redaksinya, ada boks redaksi di medianya, dan wartawannya jelas nama dan orangnya.” Yermias Degei, Kepala Bagian Humas dan Protokol Setda Nabire.