Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email
Oktober 21, 2020 2:22 pm

Kisah dokter di Papua tangani Covid-19

Tenaga medis RSUD Yowari yang menangani pandemi Covid-19 - Antara

HUMAS.NABIREKAB.GO.ID – Era normal baru setelah masyarakat dunia diterjang virus corona atau Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2) yang disebut COVID-19 (Corona Virus Disease 2019) memunculkan banyak kebiasaan baru yang harus didasarkan pada protokol kesehatan.

Menjaga jarak, mencuci tangan dan menggunakan masker adalah hal dasar yang selalu digaungkan semua pihak sejak COVID-19 mulai eksis.

Demikian juga dengan dr. Yeri Mandang, Kepala Bidang Penunjang Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Yowari Kabupaten Jayapura, Papua.

Meskipun dalam kesehariannya, dr. Yeri hanya bertugas di bagian manajemen rumah sakit, namun ketika Covid muncul maka dirinya bersama jajaran turun diperbantukan untuk menangani pasien virus Corona tersebut.

“Saya memang tidak langsung kontak dengan pasien karena selama ini bidang tugas ada di manajemen, namun selama pandemi ini semua diperbantukan,” katanya di Jayapura, Senin (15/6/3030).

Menurut dr. Yeri, sejak pandemi Corona muncul, kerja tenaga medis menjadi bertambah, hal yang paling berat baginya adalah harus memakai hazmat selama kurang lebih delapan jam.

Pembagian shift kerja yang bertambah dan fungsi pendukung bagi sesama tenaga medis.

“Jadi kami harus mendukung pekerjaan rekan lainnya jika ada yang berhalangan, padahal sebelumnya sudah menjalani shift kerja masing-masing, capek sekali,” ujarnya.

Pada awal pandemi Corona, warga Kabupaten Jayapura ada yang positif. Dia bersama rekan medisnya lainnya sempat tidak pulang ke rumah selama dua hari.

Hal itu membuat sang istri khawatir dan akhirnya memutuskan untuk menerapkan protokol kesehatan tambahan versi rumah dr. Yeri.

“Jadi setelah bertugas, lalu mandi, membersihkan diri dan ganti baju di rumah sakit, sesampainya di rumah tetap harus mematuhi protokol kesehatan ganda ala istri,” katanya lagi.

Meskipun sudah membersihkan diri dari rumah sakit, ketika tiba di depan pintu rumah dia harus menanggalkan pakaiannya dan mulai melaksanakan protokol kesehatan kedua.

Hal ini dilakukan agar keluarganya tidak terpapar Covid-19.

Bagi ayah dari tiga orang anak ini, apa yang dilakukan sang istri dengan memberlakukan protokol kesehatan tambahan di rumah merupakan salah satu langkah antisipasi yang seharusnya dilakukan ibu-ibu lain di rumahnya.

“Segala sesuatu harus dilakukan sejak dini oleh diri sendiri sehingga menjadi kebiasaan yang baik,” ujarnya lagi.

Beban dan lelah yang dirasakan selama pandemi Covid ini, tidak hanya dihilangkan melalui kebiasaan baru di rumah, namun juga dengan hal-hal lucu di lingkungan kerja.

“Ada beredar isu bahwa tenaga medis dibayar mahal untuk menangani virus Corona, kami menanggapi hal ini dengan tertawa saja karena pekerjaan kami sudah berat,” katanya.

Dia mengungkapkan terkadang dirinya bersama rekan-rekan kerjanya merasa sedih karena sudah melayani dengan sepenuh hati, namun masih saja ada yang berpikiran negatif.

“Tapi tetap kami bawa enjoy saja agar dapat melaksanakan tugas dan kewajiban secara maksimal,” ujarnya.

Sejak pandemi, sudah banyak petugas medis khususnya di ruangan Instalasi Gawat Darurat (IGD) sempat terpapar virus ini, namun segera ditangani, yakni menjalani tes usap secara rutin lalu diisolasi di rumah sakit.

Suka dan duka lainnya dalam penanganan COVID-19 ini adalah terbatasnya sumber daya manusia, seperti ketika petugas di IGD ternyata terpapar virus, lalu pegawai laboratorium. Maka, mau tidak mau harus ada yang mendukung.

“Kami tidak ingin pasien-pasien yang datang di RSUD Yowari tidak tertangani baik, sehingga upaya memanusiakan pasien kami prioritaskan,” katanya.

dr. Yeri beserta seluruh jajaran RSUD Yowari ingin memberikan pelayanan yang terbaik bagi para pasien yang datang berobat.

Oleh sebab itu, masyarakat diminta agar tidak lupa menerapkan protokol kesehatan sesuai yang sudah dianjurkan pemerintah.

Pihaknya juga mengapresiasi atas kekompakan tenaga medis di lingkungan kerjanya, dan terus berupaya melayani pasien dengan sepenuh hati.

“Agar tetap bertahan, kami saling mendukung, menguatkan dan menghibur sebagai kekuatan bersama untuk terus melayani di tengah pandemi Covid-19 ini,” ujarnya.

Meskipun begitu, hingga kini, belum ada insentif yang diterima pihaknya, namun dr. Yeri tetap mengedepankan pelayanan agar penanganan COVID-19 ini dapat dilaksanakan secara maksimal.

“Makanya, sekarang kami hanya fokus pelayanan saja, mudah-mudahan insentifnya menyusul,” katanya.

Sedangkan terkait fasilitas bagi tenaga medis di ruangan khusus isolasi pasien COVID-19, dr. Yeri menambahkan sebagian rekannya ada yang memutuskan untuk tinggal di tempat disediakan pemerintah, namun ada pula yang tinggal sendiri dengan prosedur karantina mandiri versi masing-masing.

Sekali lagi, tenaga medis juga manusia biasa jadi tetap membutuhkan dukungan dan semangat semua orang di lingkungannya. Sehingga, masyarakat harus terus mengedepankan semangat positif dan menerapkan protokol kesehatan agar pandemi COVID-19 ini segera berlalu.

Dia mengharapkan masyarakat tidak terprovokasi dengan isu-isu tak bertanggung jawab terkait pelayanan medis selama pandemi ini sehingga tidak mempengaruhi pula kinerja para tenaga medis yang sudah bersusah payah di lingkungan kerjanya masing-masing.

Virus Corona atau Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2) yang disebut COVID-19 (Corona Virus Disease 2019) mulai muncul di Kabupaten Jayapura, Papua sejak Maret 2020.

Dari data terakhir Pusdalops PB Papua per 14 Juni pada pukul 22.05 WIT, dalam peta sebaran COVID-19 di Kabupaten Jayapura tercatat 130 kasus positif di mana 85 orang di antaranya tengah menjalani perawatan, 44 orang telah sembuh dan satu orang meninggal dunia. (jubi.go.id/ANTARA)

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

Berita lainnya

Salah satu aspek penting dalam pembangunan tanah Papua adalah informasi yang benar, jujur, dan obyektif, yang diperoleh melalui mekanisme yang benar dan diperoleh dari sumber yang kompeten dan kredibel serta jika dipublikasikan maka dipublikasikan melalui media jelas alamat redaksinya, ada boks redaksi di medianya, dan wartawannya jelas nama dan orangnya.” Yermias Degei, Kepala Bagian Humas dan Protokol Setda Nabire.